Selasa, 24 Juli 2012
Bermula dari nama Sparow, kami dipertemukan di kelas XI IPA 2 yang pada saat itu senior kita mas Huda masih duduk di bangku keramat pojok kanan belakang searah jarum jam. Beruntung kami diasuh oleh seorang wali kelas yang baik hati nan berbudi luhur, meskipun beliau sebenarnya adalah Tim Tata Tertib di Sekolah, Ibu Ervina. Selama kurun waktu satu tahun nama kelas kami selalu menjadi peringkat atas dalam hal pembicaraan oleh para guru. Mulai dari nama mas Huda yang selalu menggantikan nama Nihil di papan absen, sampai kata2 sangar yang selalu tak sengaja terucap ketika pelajaran berlangsung.
****

            Malam yang kumasuki semakin larut. Disitulah aku. Di salah satu sudut kamar tidurku, aku masih tenang duduk bersila di hadapan layar laptop yang dari tadi menyala. Tampak sebingkai demi sebingkai foto yang muncul seiring dengan tombol next yang kutekan dari keyboard. Setiap foto berganti, aku terdiam sebentar lalu merenung. Menembus memori kenangan yang tersimpan rapi di hardisk otak kananku. Menyatu dengan udara dingin malam yang selalu ku anggap hangat. Membeku. Dan akirnya mencair setelah lamunanku terbang bersama manusia-manusia yang ada di dalam foto yang ku pandangi itu.
            Iya. Foto itu. Diambil sekitar satu tahun yang lalu. Disitu tampak beberapa anak berusia 17tahun yang saling beridiri berdampingan dan ada juga yang duduk jongkok. Mereka memakai seragam putih abu-abu yang sudah agak kusam diterpa waktu. Bisa dibaca dari raut wajah mereka, tersimpan haru kebahagiaan dan rasa saling menyayangi. Wajah-wajah itu, yang kini membawaku pada masa yang telah lama ku lewati. Masa-masa remaja yang penuh warna. Masa indah di sekolah.

****
            Di sebuah bus travel warna biru, aku duduk di salah satu barisan kursi di dalamnya. Bersama sepasang suami istri yang merupkan kakak dari ibuku ini. Merekalah yang telah sukses membawaku ke dalam kegelisahan ini. Aku tampak pening. Berkali-kali aku memandang jam tangan yang ku pakai di pergelangan kiriku. Jarum panjang di jam tanganku telah sampai angka empat. Iya. Jam empat pagi. Tetapi bus travel dari Bali itu masih belum juga membawaku sampai ke rumah. Aku benar-benar gelisah dan kecewa. Rasanya ingin marah tetapi aku tahu itu percuma. Padahal hari ini adalah hari yang paling aku tunggu. Hari pertama masuk sekolah setelah libur selama dua minggu. Hari yang akan memberiku banyak senyuman. Tapi kini aku hanya bisa berdoa agar bus ini melaju dengan cepat dan bisa mengantarkanku ke rumah sebelum jam sekolah masuk. Aku terus berdoa sembari memandang langit pagi yang indah dari jendela bus biru itu. Banyak rasi bintang yang sedang bergurau disana. Kerlipan sinarnya kini sedikit bisa menenangkanku dan membawaku terlelap di dalam kegelisahan hatiku.

****
            Sementara itu di sebuah sekolah menengah atas yang tidak terlalu mewah, tergambar suatu keadaan yang tidak teratur. Para siswa di sekolah itu tampak simpang siur dan bergerombol bagaikan kawanan kijang yang dikejar harimau Afrika. Hari itu yang tepatnya hari pertama masuk sekolah setelah beberapa pekan besenang-senang untuk paradise liburan, sangat memperlihatkan wajah para siswanya yang bervariasi dengan bentuk wajah yang bervariasi pula. Setidaknya raut-raut muka mereka bisa didiskripsikan sebagai berikut;”Ahh, malas banget sih masuk sekolah lagi”, “Akhirnya masuk sekolah juga, udah kangen banget ini sama temen-temen”, ada juga yang cuma memasang tampang datar seperti seorang mafia pajak yang tidak punya perasaan. Hari itulah, semua siswa sibuk mengamati daftar nama yang telah ditempel di depan kelas. Membaca dan meneliti satu per satu baris dan nomor yang tertera di selembar kertas A4. Mencari dan mencari namanya sendiri. Karena ketikan nama itulah yang nantinya dipakai sebagai tiket untuk membawa mereka duduk di kelas dengan jenjang satu taun lebih tinggi dari satu tahun yang sebelumnya.
Jika kita amati di salah satu sudut sekolah itu, tepatnya adalah SMAN 1 Gondang, ada sebuah kelas yang sangat unik dan asik kayak permen mint benget deh. Kelas tersebut diapit oleh dua kelas yang lumayan bagus dan indah. Namun, satu ruang kelas yang diapitnya tersebut tidak mirip setengah bahkan seperempatnya sama sekali. Kelas itulah yang menjadi wahana bagi sekumpulan homo sapiens mojokertensis yang mempunyai gen dominan dari beberapa gen resesif yang kalah tarung pada saat proses fertilisasi.
Setelah beberapa jam para siswa celingukan mencari nama mereka masing-masing, akhirnya beberapa siswa yang terpilih untuk menghuni kelas apitan tersebut kini telah tampak. Satu demi satu dari mereka akirnya rela menerima takdir untuk menjadi bagian dari kelas yang tak indah tersebut.
Salah satu dari mereka ada seorang siswa perempuan yang sedari tadi tampak sibuk bergulat dengan handphone di tangannya. Wajahnya mengukir sebuah kegembiraan sekaligus ketidaktenangan. Dalam dua makna ekpresi wajah polosnya, tiba-tiba dia tampak kaget dengan handphonenya yang konstan bergetar tanda panggilan masuk. Tanpa pikir panjang, dia langsung menekan tombol jawab dan berdialog dengan lawan bicaranya di saluran itu.
 “Iya halo. Jadi ga masuk?”
……..
“Yah. Ya udah gak apa-apa. Lagian ga ada absensi kok.”
……..
“Iya. Kan tadi udah aku kasih tau lewat sms. Masa masih ga percaya sih?”
…….
“Beneran. Kita sekelas. Eh iya, aku udah dapet bangku paling depan sesuai request kamu nih.”
…….
“Iya-iya. Aku dari dulu kan emang pengertian. Ya udah deh ga usah gupuh lagi. Makanya kalo liburan ke Bali ngajak aku dong”.
……..
“Hahaha. Iya deh. Ya udah kalo gitu. Jangan lupa oleh-olehnya ya.”
……..
“Iya. Waalaikumsalam”.
Lalu siswa perempuan itu menekan salah satu tombol di handphonenya tanda pembicaraan berakhir.
            Dia adalah Fidyah Nur Fitriani. Salah satu sahabatku sejak SMP. Aku dan teman-teman memanggilnya Cupid. Dan yang baru saja menelfonnya adalah aku. Ternyata aku tahun ini satu kelas dengannya. Sewaktu pertama masuk sekolah menengah atas ini, aku tidak ditakdirkan untuk bersama sahabatku yang satu itu. Karena sistem sekolahku memakai kelas acak setiap kenaikan jenjang, kini aku beruntung bisa terdampar di kelas yang sama bersama seseorang yang sudah ku kenal lama.
Aku yang masih duduk dibus biru itu melakukan inspirasi pajang. Menghirup oksigen yang kemudian ku tujukan pada saraf otak dan jantungku yang dari tadi menegang. Terbesit rasa lega di hatiku. Walaupun aku tak sempat merasakan indahnya hari pertama masuk sekolah. Tetapi kini aku cukup senang dan agak enteng untuk sampai di rumah beberapa jam lagi.
 ****
            Suasana di salah satu deret kelas itu terdengar gaduh. Ya, tepatnya di kelas XI.IPA2 yang berada di antara barisan kelas itu. Aku adalah salah satu siswa yang sedang duduk di bangku paling depan kelas itu. Bersama Cupid yang saat ini sedang asyik mengobrol dengan teman yang mejanya tepat di belakangku. Sedangkan aku sendiri sangat menikmati aktifitas yang sedang ku lakukan. Yaitu memandangi satu per satu wajah teman-teman di kelas baruku ini. Sebagian ada yang sudah kukenal, tapi sebenarnya lebih dominan yang belum aku kenal.
            

0 komentar:

About Me

Visitor